Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Alangkah leganya saya awal pekan ini. Salah satu weekend paling melelahkan baru saja berakhir. Dua kegiatan yang termasuk bersejarah baru saya dituntaskan semaksimal mungkin oleh rekan-rekan saya di DBL Indonesia, perusahaan yang fokus di dunia "youth, sports, dan entertainment."

Pada Sabtu, 21 Mei lalu, kami menyelenggarakan Antangin Bromo KOM Challenge 2022. Event kendurinya cyclist se-Indonesia (dan internasional). Lebih dari 1.000 peserta ikut gowes dari Surabaya ke Pasuruan, lalu lanjut menanjak ke Wonokitri, Bromo.

Ini adalah event sepeda mass participation resmi pertama sejak pandemi mengganggu hidup kita semua. Sesuatu yang unik, mengingat Bromo KOM pada 14 Maret 2020 adalah event resmi terakhir sebelum pandemi resmi mengganggu kita semua.

Hari Minggu-nya, 22 Mei, tim kami menyelenggarakan pertandingan sepak bola profesional pertama dengan penonton. Bertajuk Surabaya 729 Game untuk merayakan ulang tahun Kota Pahlawan, Persebaya Surabaya (secara legal anak perusahaan DBL), menjamu Persis Solo.

Pertandingan di Gelora Bung Tomo ini juga diawali dengan "laga selebriti." Teman-teman perwakilan suporter dan manajemen, plus Kapolrestabes Surabaya, bertanding melawan tim berisikan tokoh-tokoh pemerintahan, termasuk di dalamnya enam wali kota/bupati.

Oh ya, penontonnya di kisaran 35 ribu orang. Pertama kali diperbolehkan ada penonton sejak dua tahun lalu!

Untung saya tidak ikut main. Malam sebelum pertandingan, alias tidak lama setelah berakhirnya event Bromo, saya harus minta maaf kepada Wali Kota Solo Mas Gibran. Dia bertanya apakah saya ikut main bola. Saya bilang saya tidak boleh main bola. Lutut saya pernah hancur gara-gara main bola dan ada dua baut besar yang menyambungnya sekarang. Lari tidak bisa, bola tidak bisa, basket tidak bisa. Hanya bisa sepeda atau renang. Dan saya tidak bisa renang.

Jadi saya teriak-teriak saja sok jadi pelatih/manajer di pinggir lapangan. He he he...

Beberapa teman heran melihat saya weekend kemarin. Sabtu pagi jam 5 sudah di Polda Jatim, untuk start Bromo KOM jam 6. Ketika acara di Wonokitri selesai pukul 15.00, saya dan beberapa teman lanjut gowes pulang ke Surabaya. Sampai Surabaya Town Square jam 18.00. Jadi hari itu gowes total sekitar 200 km.

Kemudian, Minggu pagi sempat ada gowes recovery (santai) 30-an km bersama Wali Kota Surabaya Mas Eri Cahyadi dan ratusan peserta Bromo KOM. Siangnya, jam 12.00, saya sudah di Gelora Bung Tomo. Baru pulang dari stadion pukul 20.00.


Wali Kota Solo Mas Gibran Rakabuming Raka bersama Wali Kota Surabaya Mas Eri Cahyadi bertukar cindermata sebelum laga persahabatan antara Persebaya vs Persis.

Untung tim saya di DBL Indonesia dan Persebaya sangat bisa diandalkan. Tidak ada event yang sempurna, tapi saya tahu standar mereka lebih tinggi dari kebanyakan.

Minggu malam itu baru saya bisa lega. Plus kedapatan kabar kebahagiaan ekstra. Timnas basket Indonesia berhasil meraih medali emas di SEA Games. Kali pertama mendapatkannya sejak 1977. Sejak saya lahir!

Malam itu saya pun WA-an dengan banyak orang basket. Termasuk ketua umum Perbasi Danny Kosasih, pengurus Perbasi lain, juga bos besar basket Indonesia yang sekarang Menteri BUMN, Erick Thohir. Kita semua begitu bahagia malam itu.

Ada begitu banyak pemain lulusan DBL di timnas itu. Apalagi di timnas putri yang meraih medali perak. Bahkan salah satu bintang basket Indonesia, Abraham Damar Grahita, mengenakan sepatu signature terbaru yang dirancang DBL Indonesia bersama Ardiles. Buatan Indonesia! Sepatu itu tidak lama lagi akan dilepas di pasaran.

Semua obsesi olahraga saya Minggu malam itu memuaskan. Bahkan Grand Prix Formula 1 di Spanyol pun berlangsung seru!

Senin agak santai walau masih ada tamu, program, dan meeting-meeting. Senin itu pula saya baru sadar. Kalau ini mungkin supersibuk pertama dalam dua tahun. Secara resmi, pandemi memang belum berakhir, tapi dunia sudah kembali offline!

Dan dua event itu menunjukkan betapa orang-orang sudah tidak sabar segera offline. Pendaftaran Bromo KOM pada bulan April lalu sold out hanya dalam waktu delapan jam. Penjualan tiket Persebaya ludes tak sampai satu jam.

Kedua event itu akan membantu membuka jalan bagi banyak event lain di Indonesia. Dan semoga, menginspirasi lebih banyak lagi event yang benar-benar punya impact untuk masyarakat. Baik secara sosial maupun ekonomi.

Saat jumpa pers sebelum Bromo KOM, saya berbincang dengan para perwakilan media. Saya sampaikan, kalau Sabtunya melihat ada kemacetan karena jalan ditutup sebentar untuk peserta Bromo KOM, seharusnya kita bahagia. Bukan cemberut, mengomel, apalagi marah.

Karena event seperti Bromo KOM ini punya economic impact yang besar, yang di luar jangkauan kami sebagai penyelenggara. Hal ini sempat saya bicarakan dengan Wali Kota Surabaya, bersama Asisten II Pemkot Surabaya Pak Irvan Widyanto dan Kadispora Bu Wiwik Widayati.

Peserta Bromo KOM mungkin masih dibatasi 1.000 orang, tapi mayoritasnya dari luar kota, provinsi, bahkan luar pulau. Statistik resminya, peserta datang dari 135 kota di 30 provinsi! Dan banyak dari mereka membawa kru, keluarga, dan lain-lain.

Jadi, selama weekend itu, saya yakin ada 2.000 kamar hotel (atau lebih) yang terpakai di Surabaya. Bahkan saya tahu, hotel di sekitar tempat start ada yang mematok harga hingga dua kali lipat rate normal!

Belum lagi rata-rata peserta itu punya kemampuan ekonomi ekstra. Mereka akan jalan-jalan ke mal, belanja, makan, dan lain-lain. Minimal toko-toko sepeda di Surabaya omzetnya melejit weekend lalu.

Itu, teman-teman semua, namanya economic impact sebuah event. Pemerintah tak perlu keluar uang banyak. Hanya perlu membantu memfasilitasi dan tidak mempersulit.

Bayangkan tahun depan kalau peserta Bromo KOM kembali normal. Minimal 1.500 orang. Bahkan mungkin bisa ditambah ke 2.000. Impact-nya bisa dua kali lipat, atau lebih.

Pertandingan Persebaya melawan Persis pun mendatangkan lebih dari 4.000 pengunjung suporter Solo. Bagaimana pun besar kecilnya, itu juga pasti ada dampak ekonominya. Minimal untuk penjual makanan di sekitar stadion.

Ahhh, betapa leganya ketika dunia kembali offline.

Sekarang, kita semua sudah mulai bisa bikin planning lebih normal. Untuk kegiatan sepeda, kami sudah menyiapkan event selanjutnya, Sulut KOM Challenge 2022 di sekitar Manado, pada 23-24 Juli mendatang. Serta beberapa lagi hingga akhir tahun. Termasuk di Banyuwangi dan Kediri.

Di dunia basket, kami sudah menyiapkan kompetisi basket pelajar Honda DBL 2022 secara lebih utuh lagi. Berlangsung di 30 kota di Indonesia mulai Juli mendatang.

Ahhh, senangnya bisa bikin perencanaan lagi.

Eh, kecuali satu. Sepak bola belum ada jadwal resmi tertulis. Seperti biasa, kalau orang bertanya kapan liga sepak bola dimulai lagi, saya hanya bisa menjawab dengan bercanda (tolong jangan tersinggung): "Tuhan saja masih belum tahu kapan sepak bola Indonesia dimulai lagi..." (azrul ananda)

Foto-Foto: Dokumentasi DBL Indonesia dan Persebaya

Comments (20)

Catatan Rabuan

Olahraga (Industri) yang Sehat

Olahraga bisa bikin badan kita sehat. Jiwa kita juga kuat. Jadi pengurus olahraga di Indonesia mungkin bisa punya efek b...

DBL Effect di PON Papua

DBL Indonesia punya andil besar di cabor basket di PON Papua. Menurut statistik yang dikumpulkan teman-teman, sebanyak 6...

Bawa Equity ke Liga 1

Nah, sekarang, menyikapi pertanyaan-pertanyaan orang tentang efek klub-klub baru ini di Liga 1. Saya selalu menggunakan...

Wasit versus Goliath Formula 1

Tahun 2021 benar-benar tahun yang legendaris. Setelah 22 lomba (terbanyak dalam sejarah F1), gelar juara dunia benar-ben...