Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda


Empat peserta dari kategori berbeda (dari kiri ke kanan) Eka M. Hadi (Men 45-4), Ovaldo Sanjaya (Men 25-29), M. Nizar dan Ramdhani Nurhidayat (Men Elite) beradu cepat menuju garis finis. 

Alhamdulillah, tuntas sudah event sepeda terberat yang kami selenggarakan di grup DBL Indonesia. Antangin Bromo KOM Challenge 2023 pada 27 Mei lalu diikuti oleh 1.600 peserta dari 163 kota, 36 provinsi di Indonesia, dan lima negara yang berbeda. Rutenya 103 km, start dari Surabaya menuju Pasuruan, lalu menanjak ke Wonokitri, Bromo, di ketinggian hampir 2.000 meter.

Event ini sudah terselenggara sejak 2014. Sepuluh tahun sudah berlalu, tapi karena pandemi, edisi 2023 adalah edisi kesembilan. Perayaan Bromo KOM X alias edisi kesepuluh harus ditunda hingga 2024.

Secara peserta, event 2023 ini adalah kembali ke "normal." Ketika kali pertama diselenggarakan pada 2014, alangkah sulitnya mencari 350 peserta. Hobi bersepeda masih belum meluas, kalaupun ada penghobinya belum pada tahap menyukai gowes jarak jauh. Apalagi menanjak ekstrem.

Jumlahnya bertahap terus bertambah. Sempat "membeludak" pada edisi 2020, tepat saat pandemi dimulai. Waktu itu, panitia mengumumkan resmi 1.400 peserta (aslinya agak lebih he he), dan itu sold out dalam waktu 36 jam.

Banyak yang mengenang Bromo KOM 2020 sebagai event cyclist terakhir sebelum pandemi. Bahkan, pandemi dinyatakan dimulai pada hari penyelenggaraannya.

Tahun 2021 absen dulu. Tahun 2022 mendapatkan izin dengan syarat khusus. Bukan sekadar syarat vaksin dan lain-lain, jumlah peserta juga dibatasi 1.000 saja. Sold out dalam delapan jam!

Tahun ini, slot 1.500 peserta sold out dalam tujuh jam! Dibuka pukul 00.01 tengah malam, sold out pukul 7 pagi hari. Pada akhirnya, panitia resmi mengumumkan 1.600 peserta (aslinya agak lebih he he).


Ivo Ananda bersama ribuan peserta Antangin Bromo KOM Challenge 2023 setelah dilepas di titik start di Balai Kota Surabaya.

Sayang, peserta asing belum kembali normal. Sebelum pandemi, peserta bisa datang dari hampir 20 negara. Sedikitnya 15 negara. Gus Irsyad, Bupati Kabupaten Pasuruan, bahkan pernah memajang bendera-bendera asal peserta di pendoponya.

Tahun ini, baru lima negara. Itu pun kebanyakan dari ekspatriat yang tinggal di Indonesia. Hanya beberapa terbang ke Jawa Timur khusus ikutan event ini. Kendalanya? Bukan karena efek pandemi. Karena efek pendaftaran yang begitu cepat berakhir. Kalah "war ticket" dengan yang di Indonesia.

Untuk tahun depan, harus disiapkan jalur dan kuota khusus peserta asing. Bagaimana pun, salah satu misi utama Bromo KOM adalah sport tourism, membantu mendatangkan wisatawan asing ke Indonesia, khususnya Surabaya dan Pasuruan.

Event seperti Bromo KOM memang paling cocok untuk memamerkan sebuah kawasan. Dulu, siapa yang kenal tanjakan dari Pasuruan ke Wonokitri? Praktis tidak ada apa-apanya. Dulu, orang tahunya adalah jalur dari Probolinggo kalau mau ke kawasan Bromo Tengger Semeru.

Sekarang, segmen menanjak 25 km dari Pasrepan ke Wonokitri ini merupakan salah satu segmen bersepeda paling kondang di Indonesia.


Ribuan peserta Antangin Bromo KOM Challenge 2023 melintasi Jalan Ahmad Yani, Surabaya.

Yang sudah bertahun-tahun ikut Bromo KOM, dan hanya setahun sekali ke situ, pasti melihat perkembangannya. Tempat-tempat wisata baru muncul di sepanjang tanjakan. Dulu, butuh rumah warga yang membuka diri bagi peserta untuk berhenti, istirahat, dan membantu menyediakan minum. Sekarang, ada banyak warung dan fasilitas lain.

Dulu, ada sebuah kandang babi yang baunya berkesan saat kita lewat naik sepeda. Sekarang, banyak peserta menggunakannya sebagai tempat menginap setelah event (jadi hotel).

Pendopo Wonokitri? Lokasi finish peserta itu makin tahun makin dipercantik. Sekarang di sekitar situ juga ada Taman Edelweiss yang diresmikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (karena itu trofi juara tahun ini berbentuk vas bunga, berisikan bunga Edelweiss).


Suasana pelataran parkir Pendopo Wonokitri penuh dengan ribuan sepeda peserta.

Dan kami berusaha membuat event ini berdampak ekonomi untuk warga setempat. Segala kebutuhan makanan di finis semaksimal mungkin menggunakan jasa warga setempat. Dan apa yang bisa dibuat di lokal, kami buat di lokal.

Bukan hanya tanjakannya, kawasan kota yang dilewati pun bisa dipamerkan. Bromo KOM tahun ini masuk agenda ulang tahun Kota Surabaya, karena itu start di Balai Kota untuk menunjukkan jantung Kota Pahlawan. Recovery Ride pun diselenggarakan di Alun-Alun Surabaya yang semakin anggun dan fungsional di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi.

Ketika lewat Kota Pasuruan, melewati Alun-Alun dan "Payung Madinah" Pasuruan yang telah direnovasi oleh Wali Kota Pasuruan sekaligus salah satu orang yang saya gemari: Gus Ipul. Ada payung yang bisa buka tutup ala Madinah. Sekarang ada enam. Tahun depan, ketika peloton Bromo KOM lewat lagi, kabarnya akan ada 12 payung.

Yang pernah ikut event ini bertahun-tahun lalu mungkin punya ingatan pada alun-alun ini. Tapi kenangannya kotor dan kumuh. Sekarang bersih, indah, dan menjadi tempat jauh lebih menyenangkan bagi warga dan pengunjung.


Peserta Antangin Bromo KOM Challenge 2023 ketika melewati "Payung Madinah" di Alun-alun Kota Pasuruan.

Senang rasanya melihat kota-kota di Indonesia ini --khususnya Jawa Timur-- terus berbenah. Dan saya merasa terhormat bisa membantu mengenalkan segala kemajuan itu kepada semakin banyak orang. Kalau tidak ikut Bromo KOM, mungkin mereka tidak akan bisa melihat progres di Kota maupun Kabupaten Pasuruan.

Bicara soal economic impact. Lebih dari 75 persen peserta datang dari luar Jawa Timur. Tidak sedikit datang membawa keluarga, kru, atau teman-teman. Itu berarti ada ribuan pengunjung datang ke Surabaya dan Pasuruan selama weekend kemarin. Dan menginapnya minimal dua malam. Itu berarti, sedikitnya 2.000 kamar hotel (saya yakin jauh lebih) tersewakan selama weekend kemarin di Surabaya dan Pasuruan. Belum lagi kalau mereka pergi belanja ke pertokoan dan makan-makan di restoran.

Inilah sport tourism dalam makna yang sebenarnya!

Dalam segala event, penyelenggara harus selalu sadar dan "nerimo," bahwa tidak akan ada event yang sempurna. Semakin besar event-nya, semakin besar sorotannya, semakin banyak pula pihak-pihak yang mencari-cari masalahnya. Saya sudah belasan tahun terbiasa dengan itu. Kami mohon maaf apabila event tahun ini ada kekurangannya. Dan yang kenal kami, Anda pasti tahu kami akan terus berusaha membuatnya lebih baik lagi.

Saya pernah ditanya seorang penyelenggara event sepeda lain. Dia bertanya, apa tantangan terbesar event sepeda? Saya bilang, saya punya pengalaman ikut event sepeda di berbagai negara, di berbagai benua. Khusus di Indonesia, ada tantangan spesifik yang beda dengan di negara lain. Tantangan utama event sepeda di Indonesia adalah pesertanya.

Tradisi cycling di Indonesia belum seperti di negara yang budaya cycling-nya sudah "real." Di Indonesia, pesertanya masih lebih manja. Bukan hanya itu, rasanya hanya di Indonesia selalu ada anjuran supaya tidak curang, dan harus ada tim khusus untuk mengawasi upaya-upaya kecurangan. Di Bromo KOM kemarin, tim kami mendiskualifikasi dan menggunting lebih dari 100 nomor peserta (persisnya 112 peserta).

Tidak apa-apa, ini memang fase yang harus dilewati. Apalagi setelah pandemi, di mana ada begitu banyak orang menjajal hobi ini.

Orang-orang itu baru akan menjadi cyclist sejati setelah melewati beberapa fase. Mereka akan mencicipi berbagai tantangan ketika memilih olahraga sepeda. Yang paling utama: Tahan dengan suffering alias siksaannya tidak? Kalau sudah bisa menikmati suffering (yang menurut saya seperti semedi), maka dia sudah layak disebut cyclist seutuhnya.


Salah satu segmen menjelang finis yang membuat para peserta tersiksa.

Saya selalu khawatir, sejak pandemi, image cycling seolah hanya mampu beli sepeda mahal, beli apparel mahal, lalu gowes berkelompok kota-kota dan nongkrong di kafe. Padahal, setelah lebih dari sepuluh tahun menjalani hobi ini, saya merasa cycling itu adalah hobi yang sangat spiritual. Hobi yang membuat kita mengenali setiap bagian dari tubuh kita. Hobi yang menantang kita untuk melawan rintangan, menaklukkan tantangan, mengalahkan diri sendiri.

Kemudian, cycling mengajak kita untuk lebih eksplorasi. Mengunjungi tempat-tempat baru, menikmati tempat-tempat lama dengan persepsi baru dari atas sepeda.

Belum lagi manfaat networking, berkenalan dengan teman-teman baru, di tempat-tempat baru, dari berbagai latar belakang dan situasi.

Cycling is a beautiful sport, mengajak kita mengunjungi beautiful places, dan membantu kita bertemu banyak wonderful people.


Marisa Oetomo saat memasuki garis finis. Ia menjadi juara kedua di kategori Women 35-39.

Tidak sabar rasanya segera menuju Bromo KOM X 2024. Ada banyak ide untuk membuat event itu paling berkesan. Setelah tahun ini saja, saya melihat ada banyak orang memajang kenangan mereka bersama Bromo KOM dan sejarahnya. Memasang foto koleksi jersey-jersey lama event ini, medali-medali lama, serta nomor-nomor sepeda lamanya.

Salah satu yang spesial yang mereka kembali tampilkan: Jersey edisi pertama 2014, saat event ini masih bernama Bromo 100. Jersey itu desainnya polkadot, terinspirasi dari jersey untuk pemimpin klasemen tanjakan di balapan kelas dunia.

Desain jersey tahun depan harus istimewa pula! Let's go Bromo KOM X 2024! (azrul ananda)

CATATAN TAMBAHAN:

Bagi yang penasaran, seperti apa "skala" penyelenggaraan event seperti Antangin Bromo KOM 2023, berikut data dan angka yang bisa kami sampaikan:

PESERTA
1.600 peserta
163 kota/kabupaten, 36 provinsi di Indonesia, 5 negara
600 lebih komunitas terwakili
1.034 peserta finish (65 persen)
112 peserta curang didiskualifikasi

CREW DAN KEAMANAN
300 panitia dan volunteer dari start ke finish
105 marshall
120 Polrestabes Surabaya
279 Polres Kota Pasuruan
380 Polres Pasuruan
60 Polresta Sidoarjo
300 Satpol PP dan Dishub seluruh Kabupaten/Kota yang dilalui (belum termasuk jajaran TNI)
* Belum termasuk tenaga pengamanan dari warga desa

RACE SUPPORT
29 Commissaire dan tim
12 Personel timing chip
11 Pengawas kecurangan
7 Mobil ofisial
18 Mobil evakuasi
25 Ambulans dan Mobile Medis
Plus 2 mobil medis dari Mayapada

LOGISTIK
22.608 botol minuman (termasuk 14.400 Super O2)
3.600 porsi makanan
8.000 sachet Antangin
1.700 tube krim Counterpain
1.600 tube sunscreen Kahf
1.600 sachet energy gel dan bar Strive
Dan lain-lain...

Comments (8)

Catatan Rabuan

1.000 Bromo, 35 Ribu Persebaya, Emas Basket (Hore Hidup Offline)

Alangkah leganya saya awal pekan ini. Salah satu weekend paling melelahkan baru saja berakhir. Dua kegiatan yang termasu...

Olahraga (Industri) yang Sehat

Olahraga bisa bikin badan kita sehat. Jiwa kita juga kuat. Jadi pengurus olahraga di Indonesia mungkin bisa punya efek b...

Formula 1 Tidak Selamanya?

Sudah lebih dari 25 tahun ini, bulan Maret membuat saya berdebar-debar dan berbahagia. Karena bulan inilah sesuatu yang...

Kebaikan Lucky

Saya tidak ingin sering menulis seperti ini. Tribut untuk seorang sahabat yang baru saja pergi. Tapi ada begitu banyak i...