Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Total sudah ada 28 film Marvel Cinematic Universe (MCU) dirilis sejak Iron Man pertama muncul pada 2008. Plus sejumlah serial terkait di saluran streaming Disney+. Sudah ada begitu banyak tokoh-tokoh antagonis yang disuguhkan. Termasuk yang mungkin paling berkesan: Thanos.

Namun, setelah hampir 15 tahun, akhirnya ada "musuh" yang paling relevan bagi kita di Indonesia. Khususnya yang beragama Islam. Akhirnya, ada maling sandal/sepatu masjid di dunia Marvel!

Serius! Tidak bohong.

Kalau tidak percaya, silakan nonton serial baru di Disney+, judulnya Ms. Marvel. Dua dari enam episode sudah tersedia, Rabu hari ini (22 Juni) seri ketiga seharusnya nongol.

Terus terang, saya cukup terhenyak juga menonton dua seri Ms. Marvel ini. Kagum dengan cara Disney/Marvel menampilkan cerita superhero Muslim pertamanya, khususnya dalam menyuguhkan keseharian Kamala Khan, remaja keturunan Pakistan yang menjadi Ms. Marvel. Mulai dari kehidupan keluarga hingga momen Hari Raya dan sembahyang di masjid.

Tidak ketinggalan, diskusi menyentuh tentang perempuan mengenakan hijab. Dan tentu saja, bagaimana tema maling sandal/sepatu di masjid ikut muncul!

Saya menonton dua episode awal itu gara-gara jetlag. Pulang dari ikut balapan gravel di Amerika, jam tidur masih kacau. Jadi malam sampai pagi, saya jadi binging tontonan-tontonan streaming. Semua episode Obi-Wan Kenobi, Ms. Marvel, dan dokumenter serta standup comedy di Netflix.

Obi-Wan Kenobi? Walau pernah jadi penggemar berat seri orisinal Star Wars, saya tetap kurang sreg dengan serial itu. Dan sejak The Rise of Skywalker, saya memang sudah tidak lagi mengecap diri sebagai fans berat Star Wars. Tapi Ms. Marvel benar-benar membuat saya terhenyak. Tidak menyangka bakal semenghibur itu, dan bisa merasakan relevansinya dengan dunia sekeliling saya.

Ms. Marvel menampilkan Kamala Khan, menunjukkan secara realistis kehidupan remaja dan sekolah di Amerika saat ini. Jauh lebih plural daripada ketika saya SMA dan kuliah di sana dulu pada pertengahan 1990-an. Apalagi di kota besar, seperti Jersey City (dekat New York) di cerita serial itu.

Tidak lagi dominan kulit putih seperti di Beverly Hills 90210. Ras penampingnya juga tidak lagi didominasi kulit hitam, atau Latin. Kalangan "brown," begitu umumnya keturunan Arab/India/Pakistan dan sekitar disebut, juga sudah membaur umum di sekolah-sekolah publik.

Saya jadi ingat dulu waktu awal kuliah. Punya teman main sepak bola dari Uni Emirat Arab. Kalau ke kampus suka naik mobil sport mewah, jendela dibuka, lalu memutar lagu Arab dengan sangat kencang. Di sebelahnya duduk pacarnya, seorang cewek Korea.

Waktu itu, mungkin kelihatannya aneh. Sekarang, itu sudah sangat tidak aneh.

Anyway, keluarga Kamala digambarkan tidak garis keras, tapi juga tidak liberal. Mereka cerita bagaimana keluarga pindah ke Amerika untuk mencari kehidupan lebih baik, setelah konflik pemisahan India dan Pakistan. Supaya anak-anaknya bisa menjadi segala hal yang mereka impikan (tapi ditambahi sang ibu: Dengan batasan-batasan tertentu).

Ya, ibunya yang cenderung konservatif, tentu dengan tujuan menjaga agar Kamala tidak salah jalan. Sang ayah sendiri tergolong keren, rela berdandan ala Hulk untuk menemani Kamala ikut acara bertema Avengers. Namun, sang ayah tetap patuh pada sang istri dalam mengatur keluarga.

Kakaknya, Aamir, adalah orang yang sangat religius. Selalu mengingatkan untuk selalu berdoa dan mengucapkan "Bismillah" sebelum berbuat sesuatu. Di sisi lain, dia juga ditegur ayahnya untuk "jangan sekadar berdoa kalau tetap ingin mencari makan." Plus, Aamir diceritakan juga pernah melewati fase "bandel."

Kamala tentu punya sejumlah teman. Sahabatnya cowok bule (yang naksir dia), seorang genius bernama Bruno. Jangan kaget kalau sosok Bruno ini ke depan banyak muncul di dunia Marvel. Meneruskan tradisi jenius-jenius lain seperti Tony Stark, Bruce Banner, Peter Parker, dan lain-lain.


Bruno (tengah) dalam sebuah adegan Ms. Marvel. 

Sahabat lain adalah Nakia Bahadir. Cewek cantik berhijab yang diperankan oleh Yasmeen Fletcher. Nakia ini menyampaikan sejumlah kutipan (dan misi) yang bisa membuat bangga Muslim sedunia (juga perempuan).

Pada episode kedua, Nakia berbincang dengan Kamala. Menyampaikan betapa sulitnya jadi remaja imigran di Amerika. Hidup di antara dua dunia. "Sepanjang hidup, aku ini bisa dianggap terlalu "putih" di mata beberapa orang, atau terlalu etnis di mata orang lain. Di tengah-tengahnya juga sangat tidak nyaman," ucapnya.

Untuk mendiamkan salah satu sisi, Nakia memutuskan untuk mengenakan hijab dalam kesehariannya. Tapi kemudian, dia merasa justru itu adalah keputusan terbaik untuk pribadinya. "Saya menyadari kalau saya tidak perlu menunjukkan atau membuktikan apa pun kepada siapa pun. Ketika saya mengenakan (hijab) ini, saya merasa seperti diri saya sendiri. Seperti saya punya tujuan hidup," tegasnya.

Dalam jalan cerita, Nakia ini juga sangat ingin membuat komunitasnya lebih maju lagi. Bermula dari keluhan, mengapa bagian perempuan tidak sebagus bagian laki-laki di masjid tempat mereka berada, Nakia tergelitik untuk ikut maju pemilihan pengurus. Saingannya adalah pengurus-pengurus lama, kebanyakan laki-laki berumur.


Ms. Marvel dan Nakia.

Oh ya, Nakia ini pula yang membuat saya tertawa. Karena saat dia salat di masjid bersama Kamala itulah, sepatunya hilang dicuri orang! Maling sepatu di masjid Jersey City, di Amerika, di dunia Marvel.

Dua episode awal ini memang lebih mengenalkan latar belakang Kamala, keluarga, dan lingkungannya. Termasuk kejadian-kejadian awal yang memberinya kekuatan superhero.

Seperti apa kekuatan itu berkembang, seperti apa konflik-konflik ke depan, serta ke mana sosok Ms. Marvel akan berperan di dunia luas Marvel Cinematic Universe, memang masih belum tersampaikan. Masih ada empat episode lagi. Plus mungkin film-film layar lebar.

Walau serial ini "remaja" banget, dua episode pertama sudah cukup membuat saya tergelitik untuk terus mengikuti ceritanya. Dan yang menakjubkan, serial Ms. Marvel ini termasuk yang paling dipuji kritikus. Nilai Rotten Tomatoes-nya sempat mencapai angka 97 persen, tertinggi dari semua serial Marvel di Disney+.

Ya, secara rating, episode pertama disebut sebagai yang terburuk dari semua serial Marvel itu. Tapi penyebabnya belum tentu kualitas. Pertama, Ms. Marvel muncul di momen yang sama dengan puncaknya Obi-Wan Kenobi.

Kedua, secara komik, Ms. Marvel termasuk produk baru. Bahkan, karakter Kamala Khan baru muncul di komik pada 2013. Lima tahun setelah film Iron Man pertama ditayangkan. Jadi, tidak punya tradisi puluhan tahun seperti superhero-superhero lain.

Banyak kritikus merasa optimistis, serial ini akan terus naik ratingnya dalam beberapa pekan ke depan. Asalkan kualitas cerita tidak merosot setelah dua episode pertama yang begitu apik.

Saya tentu penasaran ke depannya akan seperti apa. Anda mungkin juga. Bisakah superhero perempuan Muslim mendapatkan tempat kuat di jajaran MCU. Kalau iya, tentu ada perasaan senang. Walau Disney tetap yang paling senang, karena bisa dapat pemasukan lebih banyak lagi dari segmen pasar yang selama ini belum mereka optimalkan... (Azrul Ananda)

Comments (19)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Akhirnya Nonton Gundala Lagi

Setelah puluhan tahun, akhirnya saya nonton film Gundala lagi. Segala nostalgia masa kecil langsung kembali. Perasaan ya...

Polisi Brutal Lebah

Segala video rekaman yang muncul, dari berbagai sudut dan sumber, tetap masih hanya memberikan sebagian gambaran. Belum...

Jangan Ngotot, Wu Wei Saja

Ingin bekerja lebih efektif? Wu wei saja…