Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Sebagai warga Surabaya, Desember ini saya begitu bahagia. Kota Pahlawan ini mungkin baru saja mendapatkan promosi terbesarnya di dunia. Promosi yang tidak keluar banyak biaya, tenar yang bukan karena bencana besar.

Promosi ini juga tidak melibatkan banyak pelaku. Tidak perlu mengeluarkan biaya ratusan miliar, tidak perlu renovasi besar, dan tidak punya tendensi politik. Bahkan, promosi terbesar Surabaya ini justru menampilkan kota ini secara apa adanya, menonjolkan salah satu kekuatan terbesarnya.

Promosi ini mampu menjangkau seluruh dunia, mencapai orang-orang yang sebelumnya tidak pernah berpikir tentang Surabaya, apalagi datang ke sini.

Promosi ini terjadi karena Mark Wiens.

Terus terang, saya bukan penggemar berat kuliner. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, khususnya saat pandemi, saya suka menonton channel-channel makanan. Baik itu di streaming seperti Netflix, maupun di YouTube.

Seperti hal-hal lain yang yang saya tonton, saya tidak suka acara yang terlalu banyak gimmick. Saya suka yang pembawa acaranya natural, yang kemampuan deskripsinya kuat, bisa menyampaikan dengan sederhana. Tidak banyak tingkah, tidak cerewet, tidak kebanyakan pakai istilah-istilah berlebihan, tidak memakai nada tinggi annoying saat berbicara.

Kecuali mungkin Uncle Roger.

Dan dari Uncle Roger pula saya kali pertama terekspose pada Mark Wiens. Dalam salah satu episodenya dua tahun lalu, Uncle Roger mengomentari bagaimana Wiens dan ibu mertuanya di Thailand membuat Thai Green Curry dari nol, secara tradisional. Jarang-jarang Uncle Roger memberi komentar positif, dan episode ini termasuk salah satu yang membuatnya senang.

Baca Juga: Komedi Haiyaa Produk Pandemi

Algoritme YouTube lantas sering mengantarkan saya ke video-video Wiens. Saya jadi suka. Waktu di-review Uncle Roger, Wiens sudah lebih dulu populer di YouTube. Subscriber-nya sudah di angka 7 jutaan. Sekarang sudah tembus 10 juta.

Kalau ke luar negeri, saya lebih dulu mencari referensi dari Wiens. Ketika saya tanyakan ke teman bersepeda saya, Fernando Sindu, seorang chef kondang di Jakarta, dia mengaku juga suka selera dan pilihan Wiens. "Tempat-tempat yang didatangi Mark Wiens itu pasti bener semua", ujar chef lulusan New York yang membidani banyak restoran papan atas itu.

Dan Wiens ini benar-benar blusukan kalau cari makanan di seluruh dunia. Bukan hanya ke tempat yang besar dan mewah, dia juga ke gang-gang kecil dan ke pasar-pasar tradisional. Baik itu di Thailand sendiri, Amerika, Eropa, Korea, Guatemala, dan tentu saja ketika ke Indonesia.

Cara dia berinteraksi sangat menyejukkan hati. Selalu antusias, selalu membuat orang sekelilingnya bahagia. Selalu membuat yang menonton bisa paham dengan bahasanya yang sederhana. Dan tentu membuat yang menonton ikut bahagia.

Setelah saya wikipedia, ternyata wajar Wiens punya kemampuan interaksi dan deskripsi seperti itu. Lahir di Phoenix, Arizona, dia lahir dari kombinasi orang tua kulit putih dan Tionghoa. Orang tuanya missionary, jadi sejak kecil dia diajak keliling tinggal di berbagai penjuru dunia. Termasuk di Kenya.

Wiens lulusan Arizona State University, jurusan Global Studies. Minatnya memang keliling dunia. Dan dia mengawali kerjanya keliling dunia pula, sebagai guru bahasa Inggris. Dia bertemu istrinya ketika mengajar di Thailand. Di sana pula dia sekarang berbasis.

Pantas bila dia bisa sangat "menginjak bumi" di mana pun dia berada, dan menceritakannya dengan bahasa yang begitu mudah!

Nah, pada 2 Desember lalu, alangkah terkejutnya saya. Mark Wiens tiba-tiba punya episode blusukan kuliner di Surabaya. Dia pernah ke Indonesia, tapi ke Jakarta dan Bali (standar banget). Di episode ke Surabaya itu, dia diantarkan oleh Budi Tarjo dan Fammy Wijaya, dua "pemandu kuliner" di IG. Saya pun penasaran, apakah pilihan-pilihan tempat Wiens di Surabaya ini benar-benar sesuai reputasinya.

Di episode itu, yang saat tulisan ini dibuat sudah mendapatkan 1,3 juta view, Wiens mengunjungi tujuh lokasi. Pecel Kriuk dan Rawon Bu Lili, Lontong Balap Mbah Ato, Soto Ambengan Pak Sadi, Sate Klopo Ondomohen Bu Asih, Rujak Cingur dan Sop Buntut Genteng Durasim, Bebek Goreng Papin, dan Tahu Campur Cak Sadak.

Soal rawon dan pecel, setiap orang Surabaya pasti punya pilihan masing-masing. Begitu pula soal tahu campur, rujak cingur, soto, dan bebek goreng. Tapi, minimal dua tempat di atas adalah referensi wajib di Surabaya. Yakni Soto Ambengan dan Sate Klopo Ondomohen.

Dengan antusias, di awal video, Wiens langsung menyebut bahwa Surabaya adalah "Street Food Paradise" alias surga makanan jalanan. Which is true! Dan dia mampu menjelaskan bagaimana rawon dibuat, termasuk soal biji kluwak, dengan begitu mudah. Saya membayangkan, penonton di Amerika akan bisa memahami rawon dan pecel dan lain-lain setelah menonton episode ini.

"Tidak perlu diragukan lagi, (rawon) adalah salah satu sup paling enak di dunia", tegas Wiens.

Walau bahagia dan bangga menonton Wiens blusukan di Surabaya, tapi saya merasa kok ada yang kurang. Masak itu doang? Kok tidak ada sego sambel yang sangat khas Surabaya?

Dar der dor! Dalam dua minggu berikutnya, video demi video menyusul. Total, hingga tulisan ini dibuat, sudah ada lima video Wiens di Surabaya. Satu episodenya didedikasikan untuk makanan-makanan Madura di Surabaya. Empat video di channel Mark Wiens. Satu episode lagi di channel keduanya, Mark Abroad, saat dia makan nasi goreng gerobak pinggir jalan di kawasan Surabaya Timur.

Dan salah satu episode akhirnya ke Sego Sambel Mak Yeye di kawasan Wonokromo. Mungkin, inilah salah satu tempat makan paling populer di Surabaya. Mas Gibran Rakabuming pernah cerita ke saya, dia berkali-kali ke Surabaya hanya untuk beli makan di situ, lalu langsung pulang ke Solo.

Abah Ibu saya pun suka makanan dari situ, walau sekarang sudah berhenti dengan alasan kesehatan (khususnya ibu yang harus lebih disiplin).

Saya sendiri terus terang bukan penggemar Mak Yeye. Satu, karena saya bukan penggemar makanan pedas. Dua, kalau sego sambel saya biasanya lebih suka Sego Sambel Hoha di kawasan Gubeng Airlangga. Meski demikian, saya sangat-sangat bangga melihat Mark Wiens di Mak Yeye!

Saat ke Mak Yeye, Wiens menunjukkan dapurnya. Dia tidak menyebutnya sebagai dapur, dia menyebutnya sebagai "food factory" alias "pabrik makanan".


Mark Wiens berada di "food factory" alias dapur Mak Yeye dengan tumpukan iwak pe-nya.

Saya bisa membayangkan kalau Mak Yeye buka cabang di Amerika. Menu utamanya adalah "rice, sambal, with omelette and smoked stingray" (sego sambel dengan telur dan iwak pe).

Oh ya, Mark Wiens ini sangat kuat makan pedas. Lihat saja di semua episode itu. Dia tidak takut menaruh banyak sambal di semua menu!

Di tempat kerja, episode-episode Wiens ini juga membuat kami penasaran. Karena walau tinggal di Surabaya, tetap ada satu dua tempat yang kami belum pernah mencoba.

Salah satunya: Warung Kongde Mbak May. Warung Nasi Madura yang oleh Wiens ditulis di deskripsi sebagai "Mungkin warung paling lucu di Surabaya, bahkan mungkin di Indonesia".

Bagian Wiens di Kongde ini bikin saya terus ketawa. Bagaimana ibu penjualnya begitu blakblakan dan santai (khas Surabaya!), membuat Wiens ikut terhibur. Namanya juga membuat Wiens tertawa. Karena "Kongde" itu singkatan dari "Bokong Gede". Wiens menerjemahkannya dalam bahasa Inggris yang sopan: "Big Backside".

Di episode itu pula, Wiens resmi sudah pernah ke Surabaya. Karena untuk kali pertama di depan kamera dia menyebut kata "Janc*k". Gara-gara menuruti ibu penjualnya menyebut nama "Sambal Janc*k". Wkwkwkwk.

Thank you Mark, you are now Surabayan!

Kami meng-Gojek-kan beberapa bungkus Nasi Madura Kongde ke kantor. Enak! Tapi mohon maaf saya tidak kuat pedasnya...


Mark Wiens bersama Mbak May di Warung Kongde.

Episode-episode Wiens di Surabaya ini berulang-ulang saya tonton. Senang melihatnya, bangga melihatnya. Yang lebih takjub lagi, Wiens tampaknya datang sendiri ke Surabaya. Tidak disponsori siapa pun di sini. Beda dengan episode-episode bulan lalu di Korea, di saat dia dengan jelas menyebut terima kasih kepada otoritas wisata Korea karena telah mengajaknya ke sana.

Jadi, bisa dibilang, Wiens telah memberikan promosi wisata luar biasa untuk Surabaya. Video-videonya di Surabaya akan terus bertambah penontonnya. Membuat orang-orang yang suka kuliner, ketika ke Indonesia, minimal ikut berpikir untuk datang ke Surabaya.

Mari kita berpikir, andai kita ini orang asing, apa alasan untuk datang ke Surabaya? Ini kota besar, tapi --maaf-- ini kota "standar". Harus ada alasan kuat untuk datang berbondong-bondong ke kota ini. Bisa dengan acara besar dan mahal, tapi hanya bisa mendatangkan dalam waktu sesaat. Belum tentu rutin.

Saya sendiri hanya punya satu referensi untuk mengaitkan Surabaya dengan pop culture. Yaitu film King Kong. Makhluk raksasa itu di film harus dikapalkan ke New York dari Tanjung Perak, Surabaya. Di film versi 1976, adegan pembukanya langsung bertuliskan "Surabaya, Indonesia". Di film Peter Jackson edisi 2005, nama kapal yang mengangkut King Kong mereferensikan Surabaya.

Nah, jualan wisata makanan bisa jadi "angle" jualan jangka panjang Surabaya. Jumlah yang datang tidak harus berbondong-bondong dalam satu waktu, tapi bisa terus konstan. Mereka yang ke Jakarta atau Bali bisa menyisihkan satu-dua hari untuk kulineran di Surabaya. Strategi "jualan"-nya ya itu. Tidak harus datang khusus ke Surabaya. Cukup mampir ke Surabaya. Satu dua hari fokus menikmati makanannya.

Seperti yang dilakukan oleh Wiens, hanya satu dua hari saja di Surabaya (mungkin tiga).

Bali boleh punya pantai, Jakarta boleh punya segalanya. Minimal, berkat Mark Wiens, Surabaya berpotensi jadi salah satu tempat wisata street food terbaik di dunia!(azrul ananda)

PS: Ketika tulisan ini dibuat, Wiens sudah punya episode di Makassar. Semoga yang di sana juga puas dengan apa yang ditampilkan Wiens!

Comments (20)

Catatan Rabuan

Umur Panjang Nenek Barbeque

Kali ini, cerita "menyejukkan" itu datang dari sebuah seri tentang kuliner.

Komedi Haiyaa Produk Pandemi

Lewat tulisan ini, saya ingin memperkenalkan satu lagi comedian favorit saya.

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

20 Tahun Cinta Namie Amuro

Entah ini tulisan sudah terlambat 20 tahun, atau mungkin hanya terlambat setengah tahun. Yang jelas ini dekat dengan mom...