Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Ada sekelompok manusia. Sepanjang hidup mereka selalu hidup terkekang di dalam sebuah gua. Tangan dan kaki mereka dirantai, mereka tidak bisa bergerak. Juga tidak bisa menolehkan kepala. Selalu menghadap sebuah dinding.

Di belakang mereka selalu ada api menyala. Akibatnya, segala benda dan makhluk yang lewat di belakang selalu terproyeksikan bayangannya ke dinding di depan.

Jadi, selama hidup, mereka mengenal segala hal lewat bayangan-bayangan itu. Mereka tidak pernah tahu wujud aslinya. Hanya bayangan yang terproyeksikan ke dinding.

Bagi mereka, tikus ya seperti bayangan di dinding. Tidak ada warna. Tidak ada wujud 3D-nya.

Pada suatu waktu, salah satu dari mereka berhasil lepas. Kemudian merangkak keluar dari gua. Sinar matahari begitu menyilaukan matanya, yang hanya terbiasa melihat dalam kegelapan.

Setelah beberapa waktu, matanya benar-benar terbuka. Dia pun jadi terbiasa, sekaligus kebingungan. Untuk kali pertama dia melihat benda-benda dalam wujud aslinya. Bukan bayangan.

Ada banyak hal begitu mengejutkannya. Hal-hal yang selama ini dia kira sesuatu, ternyata bukanlah itu. Bayangan tidak selalu sama dengan kenyataan.

Dia begitu bahagia dengan kenyataan. Saking bahagianya, dia bergegas kembali ke arah gua. Tak sabar memberi tahu teman-temannya.

Karena sudah tidak terbiasa dengan suasana gelap, dia harus bersusah payah untuk mencapai teman-temannya dulu. Terbentur di kepala, terjatuh, dan lain sebagainya.

Begitu sampai, dia dengan begitu semangat menceritakan segala hal yang sudah dia “lihat” kepada semua. Bahwa bayangan belum tentu kenyataan.

Namun, yang terjadi ternyata di luar harapannya. Teman-temannya tidak ada yang percaya. Bahkan, mereka semua marah, bersikap kasar kepadanya. Mereka sama sekali tidak mau dibantu, tidak mau dilepaskan dari belenggu. Lebih parah lagi, mereka berusaha membunuhnya…

Bacaan di atas kali pertama saya dapatkan saat kuliah, kelas English 1C, kelas Inggris level critical thinking. Sebuah kelas yang dihindari oleh SEMUA teman-teman Indonesia, bahkan dihindari semua murid internasional.

Karena kelas itu menuntut banyak membaca, dan bacaan-bacaannya tidak bisa “santai.” Kemudian harus bisa menulis resensinya dan mendiskusikannya di dalam suasana kelas yang kritis.

Tentu saja kelas seperti itu sebisa mungkin dihindari. Apalagi kalau tidak wajib.

Saya apes. Karena dihitung SMA di sana juga, saya tidak dihitung murni murid internasional. Jadi saya tidak bisa menghindari kelas-kelas seperti itu.

Waktu kali pertama membacanya, saya benar-benar tidak mudeng. Saya sampai harus menelepon orang tua angkat saya waktu SMA dulu, apa maksud si Plato ini. Kebetulan selain pemilik koran lokal di Kansas, mereka juga pengajar (bahasa Inggris dan bahasa Spanyol) di SMA.

Ya, cerita di atas memang kurang lebih cerita dari Plato, filsuf yang hidup di zaman dahulu kala (2.400 tahun lalu). Dikenal sebagai “Allegory of the Cave.” Termasuk dalam karya besarnya Republic.

Cerita versi saya di atas mungkin lebih gampang dibaca. Karena tulisan aslinya minta ampun memusingkannya (bagi saya waktu itu). Apalagi waktu itu saya belum genap 20 tahun, dengan kemampuan berpikir yang masih lebih anak-anak.

Pada prinsipnya, saya masih asyik di dalam gua, bersama teman-teman, membicarakan bayangan-bayangan yang setiap hari kami lihat bersama. Mata saya belum “terbuka.”

Seiring berjalannya hidup, seiring dengan semakin banyaknya tantangan hidup yang harus dihadapi, tulisan Plato itu menjadi semakin saya rasakan maksudnya.

Semua manusia memang benar-benar memulai hidup dari dalam gua. Segala hal yang kita kenal dan persepsikan berdasarkan dari lingkungan. Ketika ada orang luar datang menyampaikan sesuatu, walau mungkin maksudnya baik, akan selalu ada resistansi. Bahkan kekerasan.

Mungkin memang lebih enak hidup bersama dalam kegelapan daripada bingung lagi di dunia yang terang benderang. Karena belajar melihat matahari mungkin memang agak menyakitkan.

Diajak bersih-bersih justru marah-marah dulu. Diajak berbaris tertib lebih suka dorong-dorongan. Diajak bekerja cari uang bersama lebih suka meminta-minta.

Ironisnya, zaman sekarang ini, 2.400 tahun setelah Plato, kita seakan-akan diajak ramai-ramai masuk dalam gua. Bahkan lebih senang melihat bayangan dalam gua daripada melihat barang aslinya.

Pintu menuju gua itu bernama media sosial. Yang membuat kita lebih asyik melihat cuplikan pendek, membaca kalimat pendek, daripada melihat segala hal secara lebih holistik.

Di dunia komunitas sepeda saya yang paling gampang. Ada perempuan yang secara definisi sebenarnya bukanlah cyclist beneran. Kerjaannya dandan sekeren mungkin, aktif datang ke acara-acara komunitas, gowes santai, tapi sering meng-caption “Balapan” atau kalimat-kalimat lain yang seolah-olah gowesnya dia itu kelas berat.

Nah, orang-orang yang tidak paham dunia ini dengan mudah percaya dengan “bayangan” yang diproyeksikan tersebut. Hanya mereka yang kenal dan benar-benar melihat yang tahu kalau segala postingan-nya hanyalah “bayangan.” Aslinya dia hanya gowes-gowesan.

Itu hanya contoh kecil.

Ada yang sok ramai-ramai seolah ikut berbuat, padahal dia hanya ikut ramai-ramai. Sementara yang bekerja keras di balik layar sebenarnya jauh lebih berbuat daripada dia.

Alangkah banyaknya postingan-postingan “bayangan” yang beredar di dunia sekarang ini. Mengajak kita semua lebih senang melihat bayangan daripada kenyataan aslinya.

Bagaimana pun, menikmati konser secara utuh dengan mata dan telinga lebih indah daripada lewat layar kecil di hape. Menikmati pemandangan alam secara utuh jauh lebih memuaskan daripada lewat layar sedang di tablet. Lebih baik mata kita sendiri yang bergerak dari kanan ke kiri, dari atas ke bawah, daripada melihat rekaman gambar yang bergerak.

Teknologi kamera memang makin canggih. Kemampuan processor terus makin gila. Kapasitas memory juga terus menuju tak terbatas. Tapi semoga tidak membuat kita semakin lupa memaksimalkan mata sendiri, memperkaya pikiran sendiri, dan berbuat lebih nyata untuk sesama.

Jangan jadi makhluk yang lebih suka hidup di dalam gua.

Bismillah… (azrul ananda)

 

 

Comments (45)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Seeing is (Not) Believing

Banyak ungkapan atau istilah yang mungkin sudah ketinggalan zaman. Misalnya, “kuli tinta” untuk menggambarkan wartawan....

Ilmu Generasi Pepsi

Saya dapat banyak ilmu dari Pepsi. Banyak langkah-langkah saya dalam berkarir terinspirasi dari Pepsi. Bahwa Pepsi tidak...

TOOL Panjang Umur

Di tahun 2019, sebuah album lagu progressive/art metal berhasil menjadi nomor satu di daftar Billboard 200. Sebuah lagu...