Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Lihatlah sekeliling Anda. Keluarga terdekat. Keluarga yang tinggal jauh. Tetangga. Warga satu RT. Warga satu RW. Coba hitung dengan baik. Berapa yang aktif berolahraga. Sambil menghitung, coba pikirkan juga. Apa syarat minimum supaya layak dianggap sebagai aktif berolahraga.

Kalau angka statistik yang saya dapatkan akurat, maka angka yang Anda dapatkan seharusnya tidak jauh berbeda.

Kemudian, pikirkan lagi. Berapa banyak keluarga atau rekanan Anda yang telah pergi karena sakit. Khususnya karena sakit yang bisa diakibatkan oleh kurang aktif bergerak, apalagi berolahraga.

Entahlah. Mungkin karena usia saya juga makin terus menjauh dari angka 40. Dan sebentar lagi masuk tahun baru, dan kemudian bertambah umur lagi. Makin banyak kenalan yang pergi tidak kembali. Dan tidak sedikit yang seharusnya tidak perlu pergi andai dia lebih menjaga kesehatan. Lebih aktif bergerak. Lebih aktif berolahraga.

Belakangan, saya makin sering lagi diminta hadir sebagai pembicara di diskusi-diskusi olahraga. Bukan hanya mengenai industri olahraga, tapi juga mengenai perkembangan olahraga di masyarakat.

Baik oleh pihak swasta, yang hadirinnya mayoritas dari kalangan bisnis, atau oleh pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga, yang hadirinnya dari kalangan pemerintahan.

Rata-rata acara dibuka dengan besarnya potensi olahraga dan industrinya di Indonesia. Negara ini penduduknya begitu banyak, sekitar 260 juta. Di mana-mana, kalau mau besar, syarat utamanya harus punya penduduk banyak dulu. Bahkan kelas ekonomi saya waktu kuliah di Amrik juga dibuka dengan fakta ini. Bahwa Amerika akan selalu besar karena syarat pertamanya terpenuhi: Penduduknya banyak.

Kemudian, di acara-acara itu, perihal potensi besar itu biasanya disusul dengan sindiran. Bahwa orang Indonesia suka olahraga. Tapi mungkin lebih suka mengomentari dan membicarakan olahraga daripada berolahraga!

Kemudian, faktanya bisa disampaikan, bahwa sindiran itu tidak jauh dari kenyataan.

Menurut Kementerian Pemuda dan Olahraga, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, hanya 35,7 persen penduduk Indonesia yang aktif berolahraga! Hanya sekitar sepertiga!

Ini sudah bertambah dari data 2015, yang menyebutkan tak sampai 28 persen penduduk Indonesia berolahraga. Sudah bertambah, tapi tetap saja tidak besar.

Dari angka nasional, kita bisa mengerucutkan lagi. Kebetulan saya tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Jadi angka ini penting buat saya.

Data yang saya dapat dari Bu Vitri Rahmawati, kepala bidang pengembangan manajemen kepemudaan dan keolahragaan Provinsi Jawa Timur, adalah ini: Hanya 27 persen penduduk Jawa Timur berolahraga.

Penduduk Jawa Timur hampir 40 juta. Lebih besar dari mayoritas negara di dunia. Ketika disurvei yang usia 10 tahun ke atas, hanya 27 persen berolahraga! Tidak sampai sepertiga! Datanya memang dari BPS 2015, dan itu berarti segaris dengan data nasional di tahun yang sama. Jadi, mungkin angka terbarunya juga tidak beda dengan data nasional.

Nah, dari jumlah yang sudah tergolong kecil di Jawa Timur itu, pilihan utama olahraganya adalah jogging/gerak jalan (29 persen), diikuti senam (26 persen). Baru kemudian olahraga-olahraga lain yang lebih "berat."

Lebih dari separo hanya olahraga sekali seminggu. 

Dengan kenyataan itu, sangat bisa dibilang kalau negara kita ini sangat kurang berolahraga. Kemudian, saya jadi ingat diskusi saya dengan seorang menteri olahraga di Australia beberapa tahun lalu. Di Negeri Kanguru, masyarakatnya sangat aktif berolahraga. Dan memang di-encourage untuk terus aktif berolahraga.

Kalau di Australia Barat, Kementerian Olahraga dan Rekreasi punya tugas spesifik: Memastikan masyarakatnya berolahraga dan punya akses ke fasilitas olahraga. Tugasnya bukan medali emas atau gelar juara. Melainkan untuk menyediakan fasilitas olahraga di tempat-tempat yang belum memilikinya. Bukan hanya gedung atau lapangan, tapi juga taman dan jogging track. Pokoknya tugasnya adalah "Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat."

Kenapa begitu? Karena ada dampaknya dengan beban biaya kesehatan masyarakatnya. Kalau masyarakatnya sehat, beban biaya kesehatan pemerintahnya bisa ditekan. Kalau masyarakatnya tidak sehat, beban biaya kesehatan masyarakat bisa jauh lebih mahal daripada biaya pencegahannya!

Dan saya kira, perilaku pemerintah di negara-negara maju memang seperti itu. Memastikan masyarakatnya aktif bergerak dan berolahraga.

Saya jadi ingat waktu dapat beasiswa, jadi siswa pertukaran SMA di Ellinwood, Kansas. Pemerintah kota kecil itu sadar ada pelajar Indonesia yang suka main sepak bola (dan memang pernah ikut klub Indonesia Muda di Surabaya). Kemudian, mereka merancang program sepak bola untuk anak-anak SD kelas 1 dan 2.

Alhasil, di usia 16 tahun, saya mendapatkan pekerjaan resmi pertama dalam hidup saya. Melatih sepak bola anak-anak SD di Ellinwood. Lumayan, tahun 1993-1994 sudah digaji USD 15 per jam. Kabarnya, setelah saya pergi, kegiatan itu jadi program permanen di sana.

Saking lamanya, saya sampai setengah lupa pengalaman itu. Yang saya ingat hanya betapa gampangnya mengatur puluhan anak-anak Amerika, semua disiplin dan tidak susah diberi instruksi. Kemudian, setiap kali usai latihan, mereka selalu minta saya demonstrasi "bicycle kick" alias tendangan salto (waktu itu masih mampu wkwkwk).

Dan memang, program olahraga adalah aktivitas penting masyarakat di sana. Waktu SMA, pelajaran olahraga terjadi setiap pagi sebelum kelas "normal." Lalu, yang ikut tim sekolah dalam olahraga apa pun, ada jadwal latihan rutin setiap pulang sekolah.

Kebetulan saya juga sempat ikut tim track and field (atletik), sempat ikut latihan tim American football (jadi kicker), dan banyak bertugas jadi fotografer koran sekolah meliput untuk tim-tim olahraga itu (khususnya basket).

Waktu kuliah di Sacramento, California, salah satu teman serumah saya maniak basket, dan selalu ada jadwal olahraga di kampus. Atau, ikut recreational league (liga-liga komunitas masyarakat) saat weekend.

Tidak pernah berhenti olahraga. Segala kalangan masyarakat.

Klipingan koran yang memuat program sepak bola Azrul saat di Ellinwood 1993-1994. 

Nah, sekarang, mari kita lihat lingkungan terdekat kita sendiri. Kebetulan, keluarga saya aktif olahraga. Saya sudah sulit lari dan tidak bisa main bola karena rekonstruksi lutut (cedera sepak bola), jadi bisanya sepeda.

Istri saya aktif olahraga macam-macam. Anak-anak kami paksa aktif gerak. Keluarga adik saya juga aktif olahraga, dan salah satu keponakan saya punya potensi jadi atlet basket hebat. Ayah ibu saya juga masih aktif jalan dan senam. Ayah ibu mertua juga sangat aktif main golf.

Lingkungan kantor? Nah ini PR-nya. Kalau di DBL Indonesia dan Persebaya, gara-gara mengurusi olahraga, justru jadi banyak yang kurang olahraga. Salah satu resolusi saya untuk 2020: Memaksa HRD bikin program untuk memaksa karyawannya lebih aktif olahraga. Masa perusahaan olahraga karyawannya gak olahraga?

Kalau perlu bonus dihapus dan gaji tak bisa naik kalau kuota olahraganya tidak terpenuhi! Wkwkwkwk...

Bagaimana dengan keluarga dan lingkungan Anda? Sudahkah cukup bergerak dan berolahraga? Atau hanya sekadar level "tukang komen olahraga"? Atau lebih parah lagi, sekadar level "pura-pura olahraga lalu rajin posting di sosmed"?

Semoga ke depan orang makin berolahraga. Supaya Indonesia lebih sehat jasmani dan rohaninya.(azrul ananda)

 

 
Comments (32)

Catatan Rabuan

Olahraga (Industri) yang Sehat

Olahraga bisa bikin badan kita sehat. Jiwa kita juga kuat. Jadi pengurus olahraga di Indonesia mungkin bisa punya efek b...

Formula 1 Tidak Selamanya?

Sudah lebih dari 25 tahun ini, bulan Maret membuat saya berdebar-debar dan berbahagia. Karena bulan inilah sesuatu yang...

Kebaikan Lucky

Saya tidak ingin sering menulis seperti ini. Tribut untuk seorang sahabat yang baru saja pergi. Tapi ada begitu banyak i...

Obrigado Ayrton Senna, 25 Tahun Kemudian

Tepat 1 Mei, 25 tahun lalu, salah satu peristiwa terbesar dalam hidup saya terjadi. Peristiwa yang sampai hari ini masih...