Catatan
Rabuan
Azrul
Ananda

Beruntunglah kita di Indonesia, bisa melihat Star Wars: The Rise of Skywalker beberapa hari sebelum penggemar di negeri asalnya. Sebagai penggemar berat Star Wars, yang lahir di tahun yang sama dengan debut franchise itu pada 1977, menonton film terbarunya adalah sebuah kewajiban.

Begitu selesai menyaksikan film berdurasi 224 menit itu, saya keluar dengan sedikit perasaan "kosong." Seperti barusan masuk restoran, makan cukup banyak, tapi tidak merasa kenyang.

Sebagai sebuah finale (film penutup), saya mengharapkan ada hantaman keras di dada, yang membuat saya merasakannya setelah jauh dari bioskop. Seperti misalnya setelah menyaksikan Avengers: Endgame.

Jangan salah, ini film yang mengasyikkan ditonton. Khas Star Wars. Tapi sebagai cerita, kayaknya seperti terlalu "gampang." Dan kalau ditanya inti utama dari ceritanya, yang muncul di kepala saya justru soal nama keluarga. Nama baik keluarga. Betapa mahalnya sebuah nama baik keluarga, yang harus dijaga supaya anak-cucu kita tidak malu menggunakannya. Tidak malu MENGAKUINYA.

Saya tidak akan membahas cerita Rise of Skywalker. Saya tidak akan membocorkan rahasia-rahasianya kepada sesama penggemar yang belum menonton. Kalau mereka memang penggemar berat, dan telah mengikuti semua ceritanya dengan penuh passion selama puluhan tahun, kemungkinan mereka akan merasakan yang saya rasakan.

Senang. Puas. Tapi tidak kenyang.

Mau tertawa tanggung. Mau kaget tanggung. Mau marah tanggung. Mau tepuk tangan juga tanggung. Seperti tendangan penalti yang menggelinding pelan. Tetap gol, tapi tidak menggetarkan gawang.

Kata orang Jawa: Eman.

Trilogi baru ini berawal dengan luar biasa. The Force Awakens pada 2015 memperkenalkan tokoh-tokoh baru, menampilkan cerita seru, sambil tetap menjaga misteri utama cerita. Di akhir film garapan JJ Abrams itu, kita tetap tidak tahu Rey itu siapa. Film ini menyiapkan dua cerita lanjutan yang bisa ke mana saja.

Kemudian, The Last Jedi (2017) juga seru. Walau pilihan ceritanya membuat penggemar terpolarisasi. Ada yang suka, ada yang benci. Seperti pada trilogi orisinal Star Wars, film kedua jadi lebih "gelap," lebih personal, lebih serius.

Rey, lewat film garapan Rian Johnson ini, dianggap sebagai bukan anak siapa-siapa. Ini membuat kecewa sejumlah penggemar. Yang berharap dia adalah keturunan Skywalker, atau mungkin keturunan Obi Wan Kenobi.

Pada Rise of Skywalker, JJ Abrams kembali mengambil alih cerita. Berusaha menutup trilogi penutup ini dengan selengkap-lengkapnya. Menutup segala "lubang cerita," menyambungkan semua elemen dari semua film sejak 1977. Dan ya, mengungkapkan dengan tegas siapa Rey sebenarnya. Dia anak siapa.

Masalahnya, JJ Abrams seperti memaksakan begitu banyak cerita dalam satu film. Menyambungkan terlalu banyak elemen dalam satu film. Lalu membungkusnya dengan aman dan rapi, agar tidak ada kontroversi atau kemarahan.

Kalau ini cerita belanja di mal, trilogi baru ini kira-kira begini: The Force Awakens mengajak kita masuk mal dan membuka peluang untuk belanja apa saja, The Last Jedi lantas seperti memaksa kita untuk menghabiskan terlalu banyak waktu di dalam satu toko. Akibatnya, Rise of Skywalker memaksa kita memasuki sebanyak mungkin toko dalam waktu pendek yang tersisa!

Nah, kembali urusan nama.

Saya bertanya ke Anda. Apakah Anda bangga dengan nama keluarga Anda? Di Indonesia, kita mungkin tidak selalu menggunakan nama orang tua kita. Tapi, kita tetap anak mereka, cucu mereka, dan kita adalah legacy dari segala tindakan dan perbuatan orang tua dan nenek moyang kita.

Kalau orang tua, kakek-nenek, atau nenek moyang kita kondang karena sesuatu yang membuat marah begitu banyak orang, maka kita mungkin akan malu untuk mengakui bahwa kita adalah keturunan mereka. Bahkan sebisa mungkin menghapus hubungan dengan masa lalu. Sekuat tenaga memperbaiki reputasi nama, menenggelamkan segala kesalahan masa lalu.

Kalau punya kesempatan menjadi bagian dari keluarga lain yang punya reputasi lebih baik, mungkin kita akan segera melompat ke sana.

Apalagi kalau nama itu sebesar SKYWALKER. Sebuah nama yang indah, yang identik dengan kebaikan, di sebuah galaksi yang nun jauh di sana. Kalau punya kesempatan dan diizinkan, tentu lebih baik menggunakan nama itu daripada nama yang identik dengan kedzaliman.

Anyway, belajar dari Rise of Skywalker (dan segala pelajaran moral dan agama), jagalah selalu nama baik keluarga. Harus terus dijaga turun-temurun. Jangan sampai anak cucu kita kelak tidak mau menggunakan atau mengakuinya!

Selamat menjalani hidup, and May The Force Be with You! (azrul ananda)

Comments (14)

Catatan Rabuan

Welcome To Happy Wednesday 2.0

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis Happy Wednesday, sebuah kolom hari Rabu di mana saya bisa menulis sesuka hat...

Friends: 25 Tahun Masih Bazoka

Pekan ini, ada dua peristiwa yang mengingatkan kalau saya mulai tua. Satu, tes darah untuk jaga-jaga dan antisipasi berb...

Love Story 1970

Dan malam itu saya dan istri dapat tontonan escapisme. Ketika buka Netflix, ternyata muncul opsi film yang sudah begitu...

Terima Kasih, Bu Moer Ku Sayang...

Kamis pagi, 20-02-2020, seperti biasa alarm saya berbunyi pukul 03.55 pagi. Seperti biasa, langsung minum air putih sa...