Pada intinya, ocehan dia berikut ini bisa diberi judul "Garbage In, Garbage Out." Sampah akan menghasilkan sampah. Tentu Carlin menyebut contoh dari negaranya sendiri, Amerika. Jadi, pada setiap kata "Amerika," silakan menggantinya dengan negara lain.
Di sisi lain, dalam proses enam pertandingan itu, saya tumbuh mengapresiasi Milwaukee Bucks. Kotanya. Masyarakatnya. Timnya. Dan tentu para pemainnya. Khususnya tiga bintangnya: Giannis Antetokounmpo, Khris Middleton, dan Jrue Holiday.
Di saat banyak negara sudah punya road map, kita masih terus berkutat dengan debat kusir.
Kalau keliling, saya suka memperhatikan ini: Bagaimana sebuah kawasan, khususnya kawasan yang "tidak dianggap," bisa eksis dan menjadi "sesuatu."
Divaksin atau tidak? Ribut. Vaksin tidak menyebar? Ribut. Boleh vaksin berbayar? Ribut lagi. Alangkah sedihnya hidup sekarang.
Saya tidak punya trik apa-apa untuk mengalahkannya. Tidak ada resep khusus. Tidak ada obat khusus. Tidak ada perjuangan seperti yang harus dilakukan banyak orang, termasuk sejumlah teman baik saya yang juga "kena lotere."
Di playoff NBA ini yang paling saya perhatikan adalah Chris Paul, point guard bintang Suns. Saya benar-benar berharap dia bisa lolos ke final. Untuk kali pertama dalam karirnya, yang tidak terasa sudah berjalan selama 16 tahun.
Walaupun setelah divaksinasi orang tetap bisa terinfeksi, saya tetap melihat itu sebagai jalannya. Dan saya tetap menulis itu walau saya pun dinyatakan positif mendekati akhir pekan lalu.
Saya punya pengakuan: Saya suntik vaksin lagi di Amerika, setelah ikut balap sepeda Unbound Gravel, di Kansas, baru-baru ini.
Hidup tanpa masker. Bukan mimpi. Saya sudah merasakannya selama hampir tiga pekan di Amerika. Hebatnya, saya merasa aman, merasa nyaman. Karena yang bermasker dan tidak bermasker bisa hidup berdampingan, saling menjaga. Menggunakan common sense. Yang kalau di-google translate keluarnya "Akal sehat."